LOGIN高校一年になったばかりの灯里は、メイクオタクである事を秘密にしながら地味に過ごしていた。 そんな中、GW前に校外学習の班の親交を深めようという事で遊園地に行くことになった灯里達。 お化け屋敷に地味男の陸斗と入るとハプニングが! 「なぁ、オレの秘密知っちゃった?」 「誰にも言わないからっ! だから代わりに……」 ヒミツの関係はじめよう?
View More“Mas, aku hamil,” kata Rani kepada kekasihnya Adit.
Adit yang baru saja mengenakan pakaian menghentikan gerakannya dan menatap sang kekasih.
“K- kamu hamil? Kamu yakin?” tanya Adit sambil memicingkan matanya.
Rani, gadis cantik berusia 21 tahun itu menganggukkan kepalanya. Perlahan ia mengeluarkan tespack dari dalam tasnya, lalu memberikannya kepada Adit.
“Ini, sudah aku tes, Mas,” ujarnya.
Adit menggelengkan kepalanya perlahan.
“Ini kan bisa saja kamu meminjam tespack orang dan mau mengerjaiku. Kamu lagi bikin prank, kan?” kata Adit sambil memakai celana pendeknya.
Pemuda itu kemudian memeluk Rani dan mulai mengecup teruk leher sang kekasih berusaha untuk memancing gairah Rani kembali.
Saat ini mereka memang sedang bersama di sebuah kamar hotel. Hubungan Adit dan Rani sudah berjalan 5 bulan. Tetapi, Adit sudah mengincar Rani sejak lama. Hampir setahun ia mengejar cinta sang kembang desa itu sebelum akhirnya Rani bertekuk lutut dalam pelukannya.
Rani berusaha mendorong tubuh Adit untuk menjauh.
“Aku serius, Mas. Ini aku masih memiliki dua alat tes lagi. Kita lihat hasilnya bersama. Supaya kamu bisa tahu aku sedang berbohong atau tidak,” kata Rani.
Gadis itu pun kembali mengeluarkan dua buah alat tes kehamilan yang berbeda merek.
“Ini, kamu lihat sendiri alatnya belum aku buka. Kamu tunggu di sini, atau mau ikut ke kamar mandi?” kata Rani.
Adit menghela napas panjang.
“Aku mau lihat,” katanya.
Pemuda itu pun mengikuti Rani ke kamar mandi. Ia melihat sendiri Rani menampung air seninya ke dalam wadah kecil kemudian secara bersamaan mencelupkan kedua alat tes kehamilan yang baru saja ia buka.
Adit dan Rani menunggu selama beberapa saat. Adit masih berharap jika hasilnya hanya garis 1. Tetapi, setelah beberapa menit menunggu, yang muncul ada dua garis. Itu pertanda Rani memang hamil dan tidak sedang berdusta.
“Apa kamu masih mau mengatakan aku berdusta?” tanya Rani dengan air mata yang mulai jatuh di pipinya.
Adit langsung memeluk tubuh Rani dengan erat. Ia membiarkan gadis pujaannya itu menangis dalam pelukannya.
“Aku takut, Mas. Sudah banyak masalah yang terjadi di keluargaku. Jika aku sampai hamil tanpa suami, apa kata orang-orang nanti?” kata Rani.
“Sttt ... jangan bilang begitu, Sayang. Ada aku di sini. Aku akan bertanggung jawab atas anak ini,” kata Adit.
Perlahan pemuda itu membawa Rani kembali ke ranjang. Mereka duduk berhadapan. Adit mengelus perut Rani yang masih rata kemudian mengecupnya dengan mesra.
Perlahan, gerakan Adit menjadi semakin liar dan pada akhirnya berujung pada penyatuan keduanya. Kamar itu menjadi saksi bisu desahan demi desahan kenikmatan duniawi keduanya.
“Aku akan bertanggung jawab atas anak ini, kamu jangan khawatir,” kata Adit setelah mereka puas melakukan hal itu sambil memeluk tubuh Rani.
Rani hanya menganggukkan kepalanya perlahan. Dalam hati, sebenarnya ia sangat menyesali semua ini. Kenapa ia sampai terbuai dalam alunan cinta Adit dan menyerahkan semua kepada pemuda itu.
Seharusnya ia lebih bisa menahan diri dan mempertahankan kehormatannya sebagai seorang wanita. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi dan ia hanya bisa pasrah. Yang penting Adit mau bertanggung jawab dan menikahinya sehingga anak yang ada di dalam kandungannya ini memiliki status yang jelas.
“Bagaimana dengan kedua orang tuamu, Mas? Mereka pasti tidak akan setuju jika kamu menikah dengan gadis miskin seperti diriku,” kata Rani.
Adit membelai wajah Rani dan mengecupinya dengan mesra.
“Apa pun yang terjadi, aku akan bertanggung jawab. Aku sangat mencintai kamu. Sudah, sekarang kita nikmati saja kebersamaan kita. Malam ini kamu nggak usah pulang. Besok pagi baru aku antar,” kata Adit.
Sejak pertama kali menyentuh Rani, Adit memang merasa kecanduan, karena Ranilah perawan pertama yang ia tiduri.
Adit adalah seorang pemuda tampan dan berasal dari keluarga kaya raya. Ayah Adit memiliki toko grosir terbesar di kota itu. Bahkan sudah memiliki dua cabang. Adit adalah anak kedua dari dua bersaudara.
Sebelum bertemu dengan Rani, dia memang terkenal sebagai playboy. Itu sebabnya Rani tidak langsung membuka hati kepadanya.
Malam itu pun berlalu, dan pagi harinya Adit mengantarkan Rani pulang. Ia sendiri pun segera pulang ke rumahnya untuk mengatakan niatnya menikahi Rani.
“Ke mana saja kamu semalaman nggak pulang? Sampai kapan sih kamu mau begini terus, Dit? Lihat itu kakakmu, dia bekerja keras dan hasilnya toko cabang yang ia pegang bisa sukses,” tegur Bu Ana- ibu Adit.
Pemuda itu tersenyum lalu melangkah mendekati sang ibu dan mencium pipi wanita itu.
“Semalam tidur di rumah kawan, Bu. Ayah ke mana?” tanya Adit.
“Ayahmu masih mandi. Sini kamu duduk, sarapan dulu. Ibu sudah memasak nasi goreng favoritmu,” kata Bu Ana.
Adit yang memang belum sempat sarapan di hotel tadi pun duduk dan menyendokkan nasi goreng ke piringnya.
“Bu, ada yang ingin Adit sampaikan kepada ayah dan ibu,” kata Adit.
Bu Ana mengerutkan dahinya. Tidak biasanya sang anak bersikap seperti itu.
“Memangnya apa yang ingin kamu katakan?” tanya Bu Ana.
“Paling mau minta uang lagi, iya kan?Ayah baru saja mentransfer uang bulanan ke rekeningmu.”
Bu Ana dan Adit menoleh. Tampak Pak Tomi Ayah Adit melangkah menghampiri mereka lalu duduk dan mulai menyendokkan nasi goreng ke piringnya.
“Makasih, Ayah. Tapi, yang Adit ingin bicarakan bukan masalah uang,” jawab pemuda itu.
“Ya lalu, kalau bukan uang apa?” tanya Pak Tomi.
Adit menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.
“Adit ... maafkan Adit, Ayah, Ibu.”
Bu Ana mengerutkan dahinya, sebagai seorang ibu, ia tentu bisa mengetahui jika saat ini putranya itu sedang menyimpan suatu masalah.
“Apa sih, kamu ini kalau ngomong yang bener dong, belum apa-apa udah minta maaf,” kata Bu Ana.
“Adit minta izin untuk menikah, Bu, Yah.”
Pak Tomi langsung tertawa keras mendengar jawaban putranya itu.
“Astaga, hanya mau menikah saja kok susah,” kata Pak Tomi.
“Iya, Ibu kira ada apa. Memangnya calon kamu itu siapa?” tanya Bu Ana.
Adit menatap kedua orang tuanya.
“Rani, Bu.”
“Rani? Rani anaknya pak Edi yang gila itu? Keponakannya si Yatmi? TIDAK!” kata pak Tomi dengan tegas.
Wajah Pak Tomi yang tadinya penuh dengan senyum dan tawa mendadak mengeras. Semua orang di kampung mereka tahu jika ayah Rani yaitu Pak Edi memang memiliki gangguan jiwa semenjak istrinya meninggal dunia.
“Kamu mau bikin malu Ayah dan Ibu dengan menikahi anak orang gila itu. Dia memang kembang desa, tapi buat apa kalo berasal dari keluarga yang nggak beres,” kata Pak Tomi lagi.
“Tapi, Ayah ... Rani sedang hamil anakku.”
それからひと月。 決意もむなしくその二つ名は皆に呼ばれ続けている。 流石に長ったらしいので短縮され、そっちの方が定着してしまったけれど。 あたし達が嫌がっているのが分かっているから美智留ちゃん達は言わないでいてくれるけれど、他の人は面白がって結構その短縮した二つ名で呼んでくるんだよね。「美の総長、今日も美しいな!」「うっせぇ! 美しさとかいらねぇんだよ!」 笑い混じりに呼ばれた陸斗が眉間に皺を寄せて叫ぶ。「美の女傑、またメイクしてね!」「その呼び方やめたらいいですよ!」 明るく呼ばれたあたしは笑顔で返した。 そんな感じで、あたし達も少しずつこの呼び方に慣れてきてしまっているところがまた怖い。 あたし達は呼び掛けて来る生徒達から逃げるように校門を出て、あたしの家に向かった。 今日は久しぶりに陸斗がメイクさせてくれると言うので、早目に帰るんだ。 今日家にはお母さんがいるけれど、陸斗のことは紹介済みなので問題はない。 帰ると、早速メイクを始める。 大好きな彼に、あたしの大好きなメイクを施すの。「お前はやっぱりメイクしているときが一番綺麗でカッコイイよ、灯里」 そう言ってくれる陸斗に、あたしは微笑んだ。 さあ、メイクの時間だ――。END
「ごめんな、困らせたかった訳じゃねぇんだ」 そんな風に素直に謝られたら怒れなくなってしまう。 陸斗はあたしの向かい側の椅子にこちらを見るように座り、頬を撫でた。「ちょっとした仕返しのつもりだったんだ。責任とってもらうとか言ったけど、本気だったわけじゃねぇ」「……じゃあ、どうして皆の前でキスまでしたの?」 それが一番の決定打だったため、恨めし気に聞いてしまう。 すると陸斗は少し視線を逸らして呟くように言った。「……止められなかったんだよ……」「え?」 聞き返すと、視線を戻してもう一度今度はハッキリと口にする。「灯里が可愛すぎて、自分で自分を止められなかったんだよ」「な、に……それ」 ズルイ。「俺はな、いつだってお前を欲しいと思ってる。あの日、初めてお前にメイクしてもらったときからずっと」 いつになく真剣な眼差しに、あたしは先程まで感じていた怒りや羞恥も忘れて陸斗に見入っていた。「灯里の事が好きで、大切だから我慢しているだけで……本当はいつでも俺だけを見ろよって思ってる。おまえの全てが、俺だけのものになればいいのにって思ってる」 獣のような目の奥に隠していた強い独占欲。 あたしも気付かなかったそれを今彼はさらしていた。「そんなだからさ、一度タガを外してしまったら止められなかった。止められなくて、お前が本気でやめて欲しいって思ってるの分かってたのにキスしちまった」 だからごめんな、ともう一度謝られる。 謝っていても、その目に今宿っているのはどこまでも強い独占欲。 でも、頬を包んでいる手は温かくて優しい。 あたしはこんな陸斗を見てどう感じているんだろう。 自問自答してみて
「文化祭の時のを見て同好会にって言ったんだから、美と健康ってのも同好会の主旨に入るんだろう? それを考えれば男子が入ってもおかしくはないんじゃないかな?」「そうだよな。俺も部活あるから手伝えねぇけど、出来ることあったら協力するぜ?」 花田くんの言葉に同意して協力を名乗り出てくれる工藤くん。 彼はそのまま小林くんに目を向けた。「早和はどうすんの? 部活には入ってないけど」 少し考え込んでいた小林くんは、工藤くんの言葉に顔を上げて「俺は止めとく」と答えた。「俺は俺でやりたいこととかあるし。まあ、手伝ってほしいことがあれば手伝うから、遠慮なく言ってくれよ」 そう言ってあたしと美智留ちゃんを交互に見る。「で? その同好会って何同好会なんだ?」 小林くんの質問に、あたしと美智留ちゃんは眉を寄せて考え込んだ。「うーん。メイクアップ同好会は直接的すぎるからダメって言われたんだよね」「うん。あくまでも主旨は美と健康で、メイクアップはその延長上にあるって感じじゃないと許可出来ないからって」 あたしが言われたことを思い出しながら言うと、美智留ちゃんも言われたことを思い出しながら繰り返した。「英語だとヘルシー&ビューティー同好会? 何か語呂がイマイチ……」「でもそのままってのもなぁ……」 そんな風に悩むあたし達に、陸斗が「そのままでいいじゃん」と言った。「美と健康同好会。語呂は悪くねぇんじゃねぇか?」「そうだね。略してビケン同好会、ありそうな名前じゃないかな?」 陸斗と花田くんはそれでOKと……。 もう一人の会員予定のさくらちゃんに視線を移すと、ニッコリ笑顔で言われた。「美と健康同好会、略してビケン同好会で良いでしょう? こういうのはどれだけ悩んで
「同好会、ですか?」「あたしたちで?」 文化祭から一週間ほど経ったある日の放課後。 担任に話があるからと呼び出されたあたしと美智留ちゃんが職員室に向かうと、同好会を作ってみないかと提案された。「ああ。文化祭の実演が思った以上に好評でな、各学年からまたやって欲しいという要望があったんだ。そんなことを言ってもメイクなどは校則違反になるしと渋ったらグローバル教育を謳っている学校なのに硬すぎる。放課後くらいは良いじゃないかと保護者からも非難が殺到してな……」 ウンザリと言った様子に、その対応をしたのも担任の先生だったんだろう。「まあ、そう言うわけで放課後に活動するなら良いことにしようと職員会議で決まってな。お前たちが会長と副会長をやって同好会を作ってくれるならと各学年の希望者に伝えたところなんだ」「それで、同好会ですか……」「ああ。いきなり部にするわけにもいかないし。愛好会からとも思ったんだが、顧問を名乗り出てくれる先生が何人かいたから同好会という形になった」 なんだか突然の話だったのでどうすればいいのか分からない。 返事を迷っていると、出来る限り早めに決めて音楽の先生に伝えて欲しいと言われた。 音楽の先生が顧問になるからと。 そうして二人で職員室を出ると、いつの間にか息を詰めていたみたいで二人そろって「はぁー」と深い息を吐いた。「……どうする?」 最初にそう聞いて来たのは美智留ちゃん。 「どうしよっか」 あたしはすぐに答えを出していいものかと思って曖昧に答える。「話聞いて、どう思った?」 次に美智留ちゃんは質問を変えてきたので、それには素直に答える。「……純粋に嬉しかったよ。なんか、認めて貰えたって感じで」「そうだよね!」 あ