Ges
Di Kota Batama, setiap kali ada keluarga yang melahirkan anak perempuan, mereka akan menanam sebatang pohon kamper pada tahun tersebut.
Saat putrinya menikah nanti, pohon itu akan ditebang dan dijadikan dua peti besar untuk menampung mas kawin, sebagai simbol doa agar pernikahan mereka langgeng.
Setengah bulan sebelum hari pernikahanku dan adik perempuanku, kakak laki-laki kami pulang membawa dua peti yang sudah selesai dibuat.
Dia bersusah payah membawanya masuk dan mata adik langsung berbinar gembira.
Ibu mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang.
“Anak kesayangan Ibu sudah mau menikah saja. Padahal rasanya baru kemarin kamu masih anak kecil yang belum dewasa.”
Ayah juga mengerutkan kening, nada bicaranya terdengar tegas.
“Kalau dia berani bertindak semena-mena dengan Elis, bakal kuhabisi dia!”
Tidak ada satu orang pun yang merasa aneh dengan peti itu.
Mataku pun menatap ke belakang Kakak. Kosong, tidak ada apa-apa di sana.
Aku pun bertanya, “Kak, di mana punyaku?”
Kakak terkejut, seolah-oah baru teringat kalau pernikahanku juga diadakan di hari yang sama.
“Saat selesai buat satu untuk Elis, ternyata kayunya kurang. Mau bagaimana lagi, jadi pohon milikmu juga ikut kupakai.”
Ibu tampak agak kesal.
“Sudahlah, sudah terlanjur terpakai, mau bagaimana lagi? Nanti kamu tinggal beli saja dua tas, nggak perlu pasang muka cemberut begitu, mau dikasih lihat ke siapa?”
Aku menatap punggung mereka yang sedang mengerumuni adik, lalu teringat pesan yang pernah disampaikan Ayah dan Ibu pada Kakak sebelumnya.
“Peti mas kawin anak perempuan itu harus dibuat dengan sungguh-sungguh, soalnya ini menyangkut kebahagiaan seumur hidupnya.”
Ternyata, anak perempuan yang mereka maksud tidak termasuk aku.
Jika begitu, aku juga tak membutuhkan mereka lagi.