Ada cara-cara sederhana dan hangat yang kucoba pakai setiap tahun ketika menjelaskan makna kurban kepada anak-anak di keluarga—bukan pakem, tapi mudah dicerna dan penuh rasa.
Kurban pada intinya kuberitahukan sebagai tindakan berbagi dan ketaatan: berbagi terhadap orang yang membutuhkan, dan ketaatan kepada perintah Allah sebagai bukti keikhlasan hati. Untuk anak kecil aku sering memakai contoh sehari-hari, misalnya 'Kurban itu seperti memberi mainan yang paling kamu sayang ke teman yang nggak punya mainan supaya dia juga bisa senang.' Buat yang lebih besar, aku tambahkan cerita tentang Nabi Ibrahim dan Ismail sebagai contoh keberanian dan kesetiaan kepada perintah Tuhan, lalu tekankan bahwa makna kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan belajar merelakan sesuatu demi kebaikan orang lain.
Praktik langsung membantu mereka menangkap makna lebih cepat. Ajak anak melihat proses pembagian daging kurban—biarkan mereka membantu membungkus, memberi label, atau menuliskan pesan singkat untuk penerima. Kegiatan seperti membuat kartu kecil bertuliskan 'Semoga berkah' atau membagi paket sembako membuat konsep empati jadi nyata. Saat menjelaskan, gunakan kalimat-kalimat mudah ditiru: 'Kurban itu bentuk kasih sayang kepada sesama,' 'Kurban bikin orang yang kurang punya kebagian daging untuk dimakan,' atau 'Kurban ngajarin kita bersyukur dan nggak pelit.' Untuk menenangkan anak yang mungkin sedih melihat proses penyembelihan, katakan bahwa hewan diperlakukan dengan baik dan dagingnya akan dipakai untuk membantu banyak keluarga.
Berikut beberapa contoh kalimat menurut usia yang bisa dipakai orang tua: untuk balita: 'Kurban itu memberi makanan supaya teman-teman yang susah bisa kenyang dan bahagia.' Untuk anak SD: 'Kurban itu kita berbagi bagian terbaik agar orang lain juga merayakan hari besar dengan layak.' Untuk remaja: 'Kurban menguji seberapa besar kita rela berkorban demi kebaikan bersama dan mengingatkan kita pada nilai-nilai agama seperti empati dan tanggung jawab sosial.' Untuk keluarga dewasa: 'Kurban bukan hanya ritual, tapi momentum untuk menumbuhkan solidaritas, memastikan distribusi pangan yang adil, dan memperkuat ikatan komunitas.'
Akhiri obrolan dengan pertanyaan ringan supaya mereka berpikir: 'Kalau kamu punya sesuatu yang berarti, mau kamu bagi ke siapa dan kenapa?' Atau minta mereka menuliskan tiga hal yang bisa mereka korbankan selain barang—waktu, perhatian, atau tenaga—untuk membantu orang lain. Di rumah kami, cara-cara kecil ini selalu bikin suasana hangat dan anak-anak mulai memahami bahwa kurban adalah soal hati yang rela memberi, bukan sekadar prosesi. Rasanya menyenangkan melihat mereka tumbuh lebih peduli setiap tahunnya.