SUJUD TERAKHIR EMAK
“Saya turut berduka cita… sungguh, saya pun merasa kehilangan besar. Mak Asih itu bukan sekadar tetangga bagi saya, tapi sudah seperti saudara. Banyak hal yang beliau ajarkan… kesabaran, keikhlasan, juga doa-doa yang selalu beliau ucapkan.”
Arman menunduk, Farhan menghela napas panjang. Rini masih terpaku, namun kali ini bukan hanya pada kalung yang ada di kotak kayu, melainkan pada kelembutan sikap Sita. Meski hatinya tetap diliputi iri, ia tak bisa menampik bahwa aura perempuan itu begitu menenangkan.
Pak Anto akhirnya membuka suara, nadanya berat tapi tegas. “Sita… kedatangan kami bukan sekadar untuk bersilaturahmi. Ada amanat dari almarhumah yang harus kami sampaikan.”