Cinta di Ujung Perpisahan
“Lo tahu sendiri gue cuma dapet penghasilan dari bagi hasil kafe pacar gue doang. Sekarang coba lo pikir, empat puluh juta itu cukup buat apa? SPP, les Fani seabrek-abrek, pengasuh, makan, listrik, transport. Lo mana mikir itu semua?”
Kinara menatap wajah Dita lama-lama, mencari celah kejujuran di antara tuntutan itu. Tapi yang ia temukan hanya sorot mata penuh ambisi dan arogansi. Tak sedikit pun rasa syukur.
Kinara menyandarkan punggung, seraya bertanya, “Lalu, menurut Mbak, berapa yang pantas?”
Chapitres populaires