Ada sesuatu yang magis dalam cara orang Arab bisa mempertahankan senyuman di tengah segala situasi. Aku belajar ini dari teman dekatku yang tinggal di Dubai selama lima tahun. Dia bilang, di sana, senyuman bukan sekadar ekspresi wajah, tapi semacam 'armor' sosial. Pasir panas, antrean panjang, atau bahkan negosiasi alot—semua dihadapi dengan gigih dan senyuman. Bukan senyuman palsu, melainkan filosofi 'alhamdulillah' yang meresap. Mereka seolah berkata, 'hidup sudah cukup berat, untuk apa kubebani dengan cemberut?'
Contoh kecil: aku pernah lihat video viral sopir taksi di Maroko yang mobilnya mogok di tengah badai pasir. Daripada marah, dia malah ngobrol santai sambil minum teh dengan penumpangnya. Itulah 'bahasa Arab tersenyum'—ketahanan hati yang diwujudkan dalam keramahan. Sekarang aku coba terapkan: saat laptop hang atau pesanan makanan terlambat, tarik napas, tersenyum, dan ucapkan 'maafi' (maaf) dengan tulus. Rasanya dunia langsung lebih ringan.