When Drama Becomes Reality
Angin malam yang sejuk menyapu wajah mereka, membawa sedikit ketenangan di tengah hiruk pikuk pikiran.
“Kamu tahu, aku mengagumi keberanianmu,” kata Adrian, memecah kesunyian.
Nara menghela napas panjang. “Aku tidak merasa berani. Aku merasa lemah. Aku merasa gagal.”
Adrian menoleh padanya, matanya penuh kehangatan. “Nara, tidak ada yang salah dengan merasa seperti itu. Tapi yang membuatmu berbeda adalah kamu tetap maju, meskipun kamu merasa takut. Itu adalah definisi keberanian yang sesungguhnya.”