Pangeran, Aku Bukan Istrimu
“Ck!’ Ra mendecak tidak puas, atas kekalahan ini.
Mulut Lea pandai sekali menghindar. Padahal otaknya kini mulai memunculkan kata es krim mocca.
Ra tidak berubah, bahkan mocca ala Ra semakin ‘mematikan’ menurut Lea. Kopi yang dulu Lea anggap pahit, ternyata tidak pahit.
Kopi itu adalah perlambang sisi dewasa yang liar dalam diri Ra. Derajat liar dalam diri Ra akan Lea samakan dengan espresso. Kopi paling kental dan pekat, dengan aroma menggoda.
Mocca itu tak lagi pahit dan manis. Tapi manis dan memikat.
“Oh.. Aku harus menguji sesuatu lagi untuk teh ini,” kata Ra, tiba-tiba.
“Apa?” Lea memutus lamunan soal mocca espresso dengan leher yang sudah hangat.