BUKAN MENANTU KAYA
“Diinfus, Sus?“ tanyanya heran.
“Iya, Pak. Soalnya Teteh dehidrasi, hasil labnya juga di bawah normal. Trombositnya rendah,“ jawabnya sambil menatapku. Bibir Mas Hasan membulat sejenak.
**
Mas Hasan membenahi posisi bantalku. Ia menyelimuti tubuhku lalu mengusap kening ini, lembut. Aku hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Perasaan haru, sedih, marah bercampur jadi satu. Terharu karena pengorbanannya dan orangtua, sedih karena kehilangan janin dan tak mendapatkan dokter obgyn perempuan juga marah karena status ketiga iparku.
Hot Chapters