Istri Kontrak Sang Miliarder Terkutuk
Suatu malam, saat hujan deras memukul atap seng, Meri duduk di depan api kecil, selimut melingkari tubuhnya, sambil membaca kembali buku sihir—tentang darah perjanjian dan luka turun-temurun.
Ia menggumam, hampir seperti doa:
“Jika darahku adalah kunci... maka aku harus belajar menggunakannya. Kalau mereka pikir aku akan sembunyi selamanya, mereka salah.”
Tangan kirinya menekan halaman yang terbuka—simbol Vale membara samar di sudut bawah halaman, hanya bisa dilihat oleh darah yang cocok.
Ia berdiri di luar pondok, di bawah langit malam yang dipenuhi bintang. Angin laut menyapu rambutnya, dan ia memeluk perutnya yang kini mulai menampakkan bentuk.
الفصول الرائجة