Dimanja Tiga Majikan Cantik
Gerakan itu membuat ujung handuknya yang terselip di dada semakin longgar.
Dan benar saja, di depan mataku yang melotot nyaris keluar, lilitan handuk itu melorot turun sekitar lima sentimeter.
Pemandangan dua bukit putih yang menyembul malu-malu, dengan belahan yang dalam dan padat, terpampang jelas di depan mataku. “Mati aku, mati sumpah. Itu apa, yak! Itu beneran nggak sih? Putih, mulus, punel, kayaknya pas digenggaman tanganku. Sialan! Jadi tegang lagi si Otongku yang pemalu!”