Kultivator Inti Semesta
Cambuk itu tidak hanya bergerak, tapi mengaum—menggigilkan tulang-tulang siapa pun yang mendengarnya.
Lalu, dia bergerak.
Bagaikan singa kelaparan yang menerkam kawanan tikus.
Slash! Slash!
“EAAAAAAHHHHH!!”
“EAAAAAAHHHHH!!!”
“EAAAAAAHHHHH!!!”
Jeritan demi jeritan mengoyak udara panas. Setiap kali cambuk petir menghantam tubuh lawan, bukan hanya luka yang tercipta—tetapi ledakan. Tubuh-tubuh meledak menjadi kabut darah, daging mencair, tulang hancur, dan jiwa terlempar sebelum lenyap. Tanah bergetar, udara terasa sesak karena aroma darah yang membumbung tinggi.
Bab Populer