Antara Kita Bertiga
"Kamu kenapa sih, masih nggak percaya sama aku? Aku kerja keras buat kita, buat hidup enak kamu dan keluarga kamu. Jangan mulai bikin aku pusing, Sherine."
Seperti biasa, ia langsung menutup topik dan menghindari perdebatan. Mobil terus melaju menyusul kabut tebal Puncak. Namun, jantungku berdegup kencang bukan karena dinginnya malam, melainkan saat ponsel Andi di dashboard menyala sekilas, dan menampilkan sebuah pesan masuk yang sukses meremukkan sisa-sisa kepercayaanku:
"Semua ticket sudah berhasil saya pesan, Boss. Sampai jumpa di terminal keberangkatan."