Salah Melamar
Itulah yang aku pahami dari sini.
“Ciye, yang sudah dilamar senyam-senyum,” ucapku menggoda Dinda.
Ia yang tengah duduk di sofa tamu hanya meringis memamerkan deretan giginya.
“Ternyata rasanya sebahagia ini ya, Mbak, dapat lamaran.”
Aku terkekeh. “Kenapa? Pengen dilamar laki-laki lain lagi?” tanyaku.
Dengan cepat ia menggeleng, “Ya janganlah, Mbak. Cukup Mas Raffa, dan tak akan berganti. Until Jannah,” ucapnya dengan terkekeh.
Bab Populer