Ada seorang teman dekat yang pernah bercerita tentang pengalaman keluarganya mengatasi utang dengan cara unik: sedekah rutin meski dalam kondisi finansial sulit. Awalnya terdengar kontradiktif, tapi ternyata ada logika di baliknya. Mereka memulai dengan menyisihkan 10% dari penghasilan untuk membantu orang yang lebih membutuhkan, sekalipun harus mengencangkan ikat pinggang. Yang mengejutkan, dalam setahun, rezeki mereka justru mengalir dari sumber tak terduga—proyek freelance yang tiba-tiba datang, bonus tak terencana, bahkan ada tetangga yang tanpa diminta melunasi sebagian utang lama.
Cerita ini mengingatkanku pada konsep 'memberi untuk menerima' yang sering dianggap klise. Tapi menurut pengamatan mereka, sedekah menciptakan semacam energi positif. Orang-orang sekitar jadi lebih percaya dan ingin membantu ketika tahu mereka berbuat baik. Bukan sekadar mitos agama, tapi seperti siklus kebaikan yang kembali berputar. Mereka juga konsisten catat setiap transaksi sedekah dan utang, sehingga bisa melihat polanya secara nyata. Kalau dipikir-pikir, mungkin ini tentang membangun mental 'cukup'—dengan memberi, kita belajar melepaskan ketakutan akan kekurangan.