Titik Nadir Sang Pendosa
“Sudah besar dia, Bang. Kata orang, dia mirip dengan Indra. Padahal, menurut Aini dia lebih mirip dengan Abang. Mata Arjun sendu, seperti mata Abang. Berbeda dengan Indra yang memiliki mata tajam.”
Angin sepoi-sepoi menerbangkan dedaunan kering. Aroma kenanga dan kamboja samar tercium, terbawa angin yang sesekali berembus pelan. Aini membenarkan jilbabnya yang bergoyang karena tiupan angin. Wanita itu menghela napas panjang saat masa-masa pacaran dengan Irwan kembali dibentangkan dengan sempurna di ruang ingatannya.