Poor Fatma
Setiap langkahnya tersusun dengan rapi, pun didukung dengan fasilitas yang memadai.
“Sekarang giliranmu, ayo ceritakan tentangmu, yang indah-indah saja!” guraunya sambil mencomot kue berwarna cokelat kehitaman yang rasanya manis, pahit, dan legit. Tadi dia bilang namanya bronis. Ya itu, kalau aku tak salah menirukan lafalnya. Ha-ha.
"Cerita apa, Mbak? Tidak ada yang menarik dalam perjalanan hidupku.”
Hot Chapters