JIWA-JIWA YANG MALANG
kata si Amin meracau bercampu dengan deru suara mesin mobil, akan tetapi tampak tangan-tangannya tengah memberikan satu bungkus nasi putih seadanya.
Dilihatnya arloji jam tangan milik Kelv sudah terpampang sebuah jarum yang berhenti ditengah-tengah ukiran angka sepuluh, bersamaan dengan pemberhentiannya didepan kompleks perumahan yang tak jauh dari lokasi terminal Kelv tinggal dahulu. "Turun!" kata sang supir, dan Kelv pun menurutinya. Lalu berjalan menelusuri keindahan gedung-gedung kota hujan, melihat-lihat kegagahan sebuah layar papan iklan disebuah dinding halte bis, tonggak lampu jalanan, lalu lintas, stasiun kereta bawah tanah, begitu pula dengan puluhan gedung-gedung bertingkat tinggi
Hot Chapters