Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Tamu Di Rumah

Tamu Di Rumah

Reva pun mendekati pintu utama, dia menghela nafasnya panjang sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Tok! Tok! Tok! “Assalamualaikum.” Hening! Tidak ada jawaban dari mana pun, membuat Reva kembali mengetuk pintu. Tok! Tok! Tok! “Permisi.” Masih tidak ada jawaban, Reva pun melihat dari jendela ternyata di dalam terlihat seperti tidak ada orang. Reva pun menghembuskan nafasnya dengan kasar, dia duduk di sebuah kursi kayu yang ada disana.
16.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 616 kali sebagai dinding mata sebelah dalam tts
Baca
+Pustaka
Tilasmat

Tilasmat

Saat kulihat lagi, sosok itu tidak ada di sana. Akan tetapi, begitu diputar kembali kursi yang kududuki, sontak mata ini membulat ketika sebuah tulisan berwarna merah terlihat di cermin yang ada di samping pintu masuk. Kudekati benda itu untuk memastikan aksara yang tertulis di sana. "Beak tujuh ku aing. Teumpokeun, tinggal opat deui." (Habis tujuh olehku. Lihat saja, tinggal empat lagi)
105.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 166 kali sebagai dinding mata sebelah dalam tts
Baca
+Pustaka
Sikap Suami Yang Berbeda Padaku

Sikap Suami Yang Berbeda Padaku

Anak-anak juga bermain di teras ruko atau di halaman rumah tempat beberapa permainan berada. Tina turun dari motor lalu melepaskan helm yang di pakai. Ia masih memakai masker untuk menutup wajah saat melangkah masuk ke dalam rumah Bu Rati. Wanita itu menghela nafas sejenak untuk meredakan kegugupannya. “Assalamualaikum.” Sapa Tina tepat di bawah ambang pintu. “Waalaikumsalam.” Bu Rati keluar dari ruang tengah dengan memakai daster panjang sepert biasa. Rambutnya yang sudah memutih di gelung ke belakang.
1039.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.6K kali sebagai dinding mata sebelah dalam tts
Baca
+Pustaka
Cintaku T'lah Mati

Cintaku T'lah Mati

Aku terjatuh di pinggir jalan, hawa dingin menusuk hingga ke tulang. Seseorang mendorongku pelan, lalu mengangkatku dengan hati-hati. "Karen ... Karen ...." Suara itu ... apakah itu Mark atau kakakku? Aku tak bisa membedakannya lagi. Aku membuka mata dengan perlahan, menatap wajah asing di depanku. Ternyata bukan keduanya, hanya ilusiku saja. Aku meraba wajah dan dahiku, panasnya seperti air mendidih.
10.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 333 kali sebagai dinding mata sebelah dalam tts
Baca
+Pustaka
AIR MATA RINDU

AIR MATA RINDU

Apa mungkin setan? Namun, rasa penasaranku nyatanya lebih besar dari rasa takut. Setelah mengenakan hijab, dengan gerakan perlahan, kutarik kunci jendela hingga terbuka. Sial, saat itu juga kedua mataku membola. "Mas Dimas? Ngapain masih di sini?" Kutatap pria itu dengan tajam. "Mas nggak bisa pulang sebelum kamu beneran habiskan makanan itu, Rin," jawabnya dengan suara pelan dan lembut.
1013.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 396 kali sebagai dinding mata sebelah dalam tts
Baca
+Pustaka
Menipu Sang CEO Buta

Menipu Sang CEO Buta

Dan jawaban semakin tidak jelas, karena Matteo hanya mengangkat bahu. Ellie ingin mengguncang kerah leher Matteo melihat sikapnya itu. Tapi mungkin memang rumah milik Matteo, karena setelah itu Ellie melihatnya memasukkan deretan angka di handle pintu otomatis untuk membuka pintu depan. Bagian dalam rumah itu, sama mewahnya dengan apa yang ditampakkan dari luar. Dan interiornya lebih sesuai dengan selera Ellie. Minimalis, tidak terlalu banyak detail seperti paviliun yang saat ini ditempatinya.
109.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 228 kali sebagai dinding mata sebelah dalam tts
Baca
+Pustaka
Mata Batin

Mata Batin

Tumor otak. Suara tangisan berubah menjadi teriakkan. Bara membuka mata. Akan tetapi, suara itu menghilang ketika matanya terbuka. ** Seperti penjelasan Boy, Bara telah bangun sejak subuh. Melakukan salat subuh di dalam kamar. Merasakan seseorang berdiri depan pintu menatap Bara yang sedang beribadah. Bara tetap fokus dengan ibadahnya. Tak menoleh sedikitpun. Hanya terlihat kaki dan baju panjang. Sepertinya, ia adalah wanita.
1019.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 633 kali sebagai dinding mata sebelah dalam tts
Baca
+Pustaka
TITISAN

TITISAN

Ia mengepalkan tangan, mencoba melawan rasa takut yang mendera. Dua tangan berpindah ke atas kepala, otaknya masih belum dapat mencerna. Masih jelas dalam ingatan, saat ia dicengkeram kuat oleh seorang wanita yang kesurupan di depan rumah Nini Darsih. Namun, kenapa ia malah terbangun di tempat asing ini? Tak berhasil menemukan jawaban, ia pun meremas rambutnya kasar. Sreekkk... sreekkk... sreekkk....
102.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 105 kali sebagai dinding mata sebelah dalam tts
Baca
+Pustaka
Memantai [Tamat]

Memantai [Tamat]

Ia hanya melihat ke luar jendela sambil mengenyitkan dahi. “Aaaa!!! Roncoooo!!!” keluh ketiga wanita yang duduk di deretan kursi tengah. Rianti membenamkan wajahnya kepada boneka bantal kecil, Emmy menjepit hidungnya dengan jarinya, dan Riris menghadap ke belakang sambil mengipas-ngipas Ronco berharap agar aromanya cepat keluar jendela. Ridwan menggeleng-gelengkan kepalanya, menghela napas panjang, dan menepuk keningnya dengan telapak tangannya.
108.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 211 kali sebagai dinding mata sebelah dalam tts
Baca
+Pustaka
Aku Pria Biasa yang Tinggal dengan Enam Wanita Berbahaya

Aku Pria Biasa yang Tinggal dengan Enam Wanita Berbahaya

Di dalam tas itu, tiga tabung injektor antibiotik militer saling berbenturan menimbulkan bunyi berdenting pelan. Naya menatap keluar melalui jendela kaca quartz kecil. Tidak ada apa-apa di luar sana. Hanya kegelapan laut dalam yang absolut, sebuah kekosongan hitam yang seolah siap menelan kapsul kecilnya kapan saja jika kabel di atasnya menyerah.
10706 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 14 kali sebagai dinding mata sebelah dalam tts
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status