Mungkin ini terdengar sederhana, tapi dulu waktu kecil saya nggak terlalu memikirkannya. Saya cuma seneng banget baca cerita si Kancil nyolong timun atau kura-kura mengalahkan kelinci. Baru belakangan ini saya ngobrol sama keponakan yang tanya kenapa nggak pakai orang aja, jadi mikir lebih jauh. Salah satu fungsi utama dongeng binatang tuh ya... untuk menyamarkan. Dengan latar hewan, pengarang bisa menyampaikan kritik sosial, sindiran politik, atau pelajaran moral yang keras tanpa langsung menunjuk hidung kelompok manusia tertentu. Dongeng-dongeng Aesop dari Yunani Kuno itu banyak yang satir tajam soal kekuasaan dan kelakuan bangsawan, tapi karena tokohnya singa, serigala, atau domba, bisa lolos sensor.
Tapi di sisi lain, menurut saya ada juga sifat universal dari hewan-hewan ini yang bikin ceritanya mudah dicerna lintas budaya. Karakter rubia itu licik, singa itu berwibawa (atau kadang sombong), semut itu rajin, merak itu sombong—ini stereotip yang langsung dipahami hampir semua orang. Ini membantu pencerita untuk langsung masuk ke konflik tanpa perlu membangun latar belakang karakter dari nol. Anak-anak bisa langsung ngerti bahwa si Kelinci yang arogan pasti akan kalah karena keteledorannya. Dan karena karakter-karakternya bukan manusia, ceritanya terasa lebih aman untuk dibahas; konfliknya jadi abstrak, nggak personal, jadi bisa dipakai untuk bahas isu rumit seperti keserakahan atau ketidakadilan tanpa bikin anak-anak takut atau bingung. Kayak alat peraga yang efektif banget.
Satu hal lagi, penggunaan hewan memungkinkan eksplorasi sifat manusia yang paling dasar—naluri, ambisi, ketakutan—dalam bentuk yang murni dan terkadang hiperbolis. Manusia dalam kehidupan nyata itu kompleks dan penuh nuansa, tapi dalam dongeng, kita bisa lihat 'esensinya' lewat hewan. Akhirnya, dongeng binatang itu seperti cermin yang agak bengkok; kita melihat diri sendiri, tapi dalam bentuk yang sedikit aneh dan bisa ditertawakan, sehingga kita lebih mudah menerima pelajarannya. Saya sendiri baru sadar pesan moral dari 'Si Kancil dan Buaya' itu dalam setelah dewasa, tentang kecerdikan mengatasi kekuatan fisik.