Gue sering mikir soal kenapa kritikus ngerasa lebih kejam ke film-film yang dianggap 'lebih parah dari '365 Days''. Untuk aku, yang suka nonton segala macam film dari yang indie sampai blockbuster, penilaian kritikus biasanya nggak cuma soal seberapa buruk alur atau aktingnya. Mereka ngeliat keseluruhan paket: niat pembuat film, bagaimana unsur teknis mendukung cerita, dan—paling penting—apa dampak etis dari pesan yang disampaikan. Kalau sebuah film gagal total tapi jelas berniat jadi satire atau komentar sosial, kritikus kadang masih bisa memuji bagian-bagian tertentu. Tapi kalau filmnya payah dan tampak meromantisasi perilaku yang berbahaya tanpa refleksi, reaksi negatifnya bisa brutal.
Selain itu, kritik nggak lepas dari konteks. Film seperti '365 Days' dikritik keras karena unsur eksploitasi dan penggambaran relasi yang bermasalah, sehingga ketika muncul film lain yang lebih buruk, kritiknya sering kali fokus pada bagaimana film itu mengulang atau memperparah masalah tersebut—misalnya glamorisasi kekerasan, representasi perempuan yang reduktif, atau pemaknaan persetujuan yang ambigue. Kritikus juga sering mengangkat kelemahan teknis: dialog klise, pacing kacau, sinematografi yang cuma polesan tanpa fungsi naratif.
Di sisi lain, ada juga sudut pandang yang lebih 'pasrah': kalau film itu viral dan penonton menikmatinya sebagai guilty pleasure, kritikus bisa dicap terlalu snob. Nanging, menurut aku, tugas kritikus adalah menilai bukan hanya hiburan semata tapi juga konsekuensi budaya. Jadi ketika sebuah film yang lebih buruk dari '365 Days' keluar, komentar kritikus biasanya intens karena film semacam itu terasa seperti langkah mundur dalam representasi dan etika pembuatan film—dan itu bikin diskusi jadi panas. Aku sendiri akhirnya lebih sering memilih nonton dengan catatan kritis, bukan cuma buat hiburan kosong.