Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku
"Tapi aku mau coba. Aku bosen di rumah terus. Aku lulusan terbaik, Mas. Sayang ijazahku kalau cuma disimpen di lemari."
Aku mencoba tersenyum, berharap dia mengerti. Berharap dia melihat bahwa aku butuh sesuatu untuk diriku sendiri. Sesuatu yang bukan tentang dia. Sesuatu yang membuatku merasa berguna sebagai manusia, bukan sebagai pajangan.
"Aku cuma mau punya kegiatan, Mas. Biar nggak gila sendirian di apartemen sebesar ini."
Arjuna diam.
Dia mengambil amplop itu. Membolak-baliknya sejenak. Dia menimbang beratnya di tangan, seolah sedang menimbang nasibku.