The Peacemaker
yang baru, baru saja dimulai, dan hasilnya masih menggantung dalam ketidakpastian yang mencekam.
Langit di Negara Bagian Timur meronta, dirobek oleh suara tembakan yang memekakkan telinga. Aroma mesiu dan darah bercampur dengan debu gurun yang panas, menyelimuti malam yang seharusnya tenang. Arga bergerak seperti bayangan, memimpin tim Alpha menembus kegelapan. Ia tidak lagi memikirkan kelembutan angin Bumintara atau senyum Maya; pikirannya adalah perhitungan taktis, respons cepat, dan kemenangan mutlak.
“Ryan, posisi tim Beta?” suara Arga terdengar tenang di interkom, meski di seiringi ledakan tak jauh darinya.
Bab Populer