Dear, Pak Dokter
"Selamat ya, Re. Aku turut senang mendengarnya."
Wanita itu tersenyum, dengan pandangan netra indahnya menerawang ke depan; pada lalu-lalang pejalan kaki di depan toko bunganya yang berdinding kaca transparan. "Aku pun sebenarnya tidak menyangka, Sha. Kamu tahu sendiri jika masa haidku tidak pernah tepat waktu, 'kan?" ia melirik sejenak pada Sang sahabat, kemudian kembali melanjutkan ucapannya dengan masih mengembangkan senyuman. "Padahal aku baru telat beberapa hari yang lalu. Aku hanya iseng mengeceknya. Dan kamu tahu bagaimana rasanya saat aku melihat garis dua di tespekku? Rasanya seperti mimpi." Netra indah itu berkaca-kaca ketika berucap, namun senyuman tak luntur pada wajah cantiknya.