Ketika Takdir Menyapa
Senyum tipis terukir di wajahnya, senyum yang ia paksa tetap stabil meski jantungnya berdetak begitu cepat.
Ia mengangguk sopan. Lalu, dengan gerakan perlahan, Saras mengulurkan tangannya ke arah Pak Handika.
“Pak,”
Tangannya sedikit dingin. Namun sambutan yang ia terima, hangat.
Pak Handika menerima uluran tangan itu tanpa ragu, bahkan menggenggamnya dengan ramah.
“Ya, Saras,” ucapnya lembut, seolah ingin membuatnya merasa diterima.
Bab Populer