Kau Jandakan Aku, Kududakan Dirimu
Membuka luka lama saat ayah mengkhianati ibu di masa lalu.
Aku mengumpulkan energi, bangkit, dan duduk di bibir ranjang beberapa menit. Kemudian, mataku terfokus pada cermin meja rias. Cermin yang setiap hari mendengar keluh kesah dan rintihan hatiku. Cermin yang selalu menampakkan bahwa aku memang tidak secantik dulu, tidak semenarik dulu, dan tidak semulus dulu. Namun, aku seolah dihadapkan tanpa pilihan selain mengalah.
"Ya Allah, kini aku menyesal pernah memperjuangkan laki-laki yang nggak tahu diri itu."
Hot Chapters