DINIKAHI CALON KAKAK IPARKU
Aku nggak maksud .
"Tidak apa-apa." Suaranya terdengar tulus kali ini. "Saya ngerti. Kenangan itu nggak bisa hilang begitu aja, kan?"
Aku terdiam, memandangi cangkir kosong di tanganku. "Kadang aku nggak ngerti, Bang. Kalau kenangan itu cuma bikin berat, kenapa harus ada?"
Bang Fahad tertawa kecil, tapi nadanya terdengar getir. "Mungkin kenangan itu ada supaya kita ngerti apa yang penting sekarang dan siapa yang penting sekarang."