Hayu
“Iya, peramal cuaca hati saya, Pak,“ canda Hayu.
Candra tertawa terbahak-bahak, harinya mulai berwarna lagi setelah kedatangan Hayu ke kantor.
“Pak, berarti saya tetap dapat bonus tambahan, kan. Lah saya kan cutinya cuma setengah hari.”
Candra mengulum senyum, kemudian menganggukkan kepalanya. “Dasar perhitungan.”
“Biar cepat kaya, Pak. Terus nggak diperlakukan orang semena-mena. Sekarang jamannya kalau punya duit di hormati, semua orang akan datang mendekati. Berbeda kalau melarat, Pak. Sebaik apapun, orang tak akan meliriknya, apalagi menatap, mereka enggan, dan mungkin jijik,” kata Hayu panjang lebar, sekalian mencurahkan segala unek-unek yang mengganjal di dalam hatinya, meski ia tahu Ca
Bab Populer