Ibu Mertuaku Penuh Drama
Pagi itu kami sarapan nasi sama telur ceplok dan sayur tumis kangkung, rasanya sangat nikmat sekali kami bisa bersarapan bersama, aku jadi teringat saat di rumah Ibu mertua, setiap pagi aku disuguhi dengan menumpuknya pekerjaan yang harus aku selesaikan masih dengan perut kosong, jika beruntung maka selesai pekerjaan, lauk masih tersisa tapi jika tidak, kami harus siap-siap berpuasa.
“Cieee Romeo dan Juliet lagi breakfast.” Farida thu-tahu sudah ada di hadapan kami. Kami tersenyum menyambutnya.
“Duduk sini sama-sama sarapan, Da.” ajak Mas Didik.
Ia menyerahkan dua bungkus plastik kecil, aku menerimanya dan melihat dia membeli sarapan nasi kuning.