Setelah Semua Penderitaan Berlalu
Lalu pura-pura bersikap lembut dan menasihatiku,
“Tania, kamu masih tinggal di rumah sakit? Meskipun temanmu itu dokter, tapi kamu terus menggunakan sumber daya rumah sakit itu juga nggak baik, lho.”
Namun, saat mendekat, dia berbisik di telingaku dengan suara yang hanya bisa didengar kami berdua,
“Kok anak haram dalam kandunganmu itu masih belum gugur juga? Benar-benar sama sepertimu, nyawa murahan.”
Usai bicara, dia mencubit tanganku dengan keras. Aku kesakitan dan menepis tangannya.
Seketika itu juga, dia pun terjatuh keras ke tanah dan melirikku dengan tatapan menantang. Lalu, langsung mengubah wajahnya menjadi ekspresi sedih.
Bab Populer