Library
Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Dinikahi Miliarder Buruk Rupa

Dinikahi Miliarder Buruk Rupa

Dia juga jengkel sehingga menghardik, "Lalu, orang tuamu nggak pernah ajari kamu untuk jangan libatkan orang lain dalam masalah karena kebodohanmu! Kamu tahu nggak betapa aku sengsara untuk ajari kamu setiap hari? Soal semudah itu harus kujelaskan entah berapa kali. Kamu nggak punya otak? Salah, idiot pun lebih pintar dari kamu! " Grace membentak, "Kamu ... kamu bilang aku nggak punya otak? Kalaupun aku nggak punya otak, aku punya rasa malu! Aku juga tahu apa yang boleh dan nggak boleh dilakukan! Kamu pintar, lalu apa yang kamu lakukan? Jangan bandingkan soal pendidikan. Aku akui aku nggak sepintar kamu. Kenapa kamu nggak bandingkan soal masak?"
10159.9K viewsCompletedAdded to Library 3.8K Times as idiot
Read
+Library
CINTA COWOK AUTIS

CINTA COWOK AUTIS

Ia kembali memperhatikan anggrek bulan yang tumbuh subur di batang pohon. Ryan, cowok beralis tebal dengan postur tubuh ideal tengah sibuk di galerinyas. Ia menderita autis sejak berumur dua tahun. Cenderung pendiam dan fokus pada satu titik. Tidak menyukai keramaian. Tidak suka dengan warna merah dan kuning. Tidak suka orang-orang mengejeknya idiot.
103.1K viewsOngoingAdded to Library 84 Times as idiot
Read
+Library
Criana

Criana

Nadia tertawa terbahak-bahak. Mendengar ocehan Nadia aku menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal. Aku seperti orang bodoh yang tak berguna. Sedang Randi yang sibuk bekerja di mejanya, tersenyum-senyum melihat tingkahku. Aku benar-benar mati kutu. Repotasiku sebagai karyawan cerdas berilian hancur seketika. Hatiku hancur, repotasiku hancur, lengkaplah sudah penderitaanku kini. Aku begitu kesal dan marah kepada diriku sendiri.
103.3K viewsOngoingAdded to Library 115 Times as idiot
Read
+Library
Little Brother

Little Brother

"Jelaskan padaku, apa yang membuatmu marah kepadaku?" Zen mendengus. Tertawa sinis. "Kenapa kau ingin putus dariku?" tandas Zen gemas. Barulah Irena sedikit paham. "Putus?" Tetap saja berusaha memahami, Irena tidak mendapatkan potongan puzzle lainnya di otak. Irena juga gemas dengan Zen yang tidak bicara to the point. "Irena apa kau mengidap demensia? Kau sendiri yang mengirim pesan padaku dan sekarang kau bersikap seolah tidak terjadi apa-apa?"
105.3K viewsOngoingAdded to Library 201 Times as idiot
Read
+Library
Cliche

Cliche

"Ya, ya, ya. Aku paham. Satu-satunya cara kamu harus bekerja di sana." "Itu pun mustahil karena ijazahku," timpalku. "Tunggu ..., sepertinya ...." Chin-Hae tak melanjutkan kalimatnya seraya mencerna pikiran. Beberapa saat kemudian, ia mengeluarkan ponsel. "Orang ini dulu pernah menawariku bekerja di Byeoul. Sama sepertimu, aku pun menolak karena alasan ijazah. Tapi dia mengatakan ijazah tidak menjadi soal. Tetap saja aku tidak percaya, dan menganggap ucapannya hanyalah bualan orang mabuk. Apalagi aku masih merasa nyaman dengan pekerjaanku." Chin-Hae menunjukkan nomor ponsel. "Aku tidak mengenalnya. Saat itu kami berbincang di nightclub."
102.7K viewsOngoingAdded to Library 76 Times as idiot
Read
+Library
Psycho

Psycho

tanya Ji Seob yang mulai takut. “Seseorang yang sangat membenci siapa pun yang tidak bisa bersikap sopan pada orang lain, apalagi pada orang yang lebih tua. Hanya ketidaksengajaan dan tidak mungkin membuatmu mati. Apa salahnya mengatakan tidak apa-apa, Nenek?” ucap Louis dan ia mulai berjalan mendekati Ji Seob. “Apa maksudmu?” Ji Seob bergerak mundur.
1011.0K viewsCompletedAdded to Library 341 Times as idiot
Read
+Library
Slave

Slave

batin Hasan tertawa geli, merasa lucu dan konyol dengan pemikirannya sendiri. Tidak, tidak. Aku tidaklah cemburu, tetapi hanya saja aku merasa belum terima seakan di campakkan Ayesha begitu saja. sambung Hasan mengenyahkan segala pemikiran anehnya. Hasan mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangan, kemudian ia menyisir helaian rambutnya ke belakang dengan jari-jari tangannya. Persis seperti orang frustasi yang menjurus ke gila, seperti itulah definisi yang tepat untuk menggambarkan sosok Hasan sekarang ini.
10.0K viewsCompletedAdded to Library 289 Times as idiot
Read
+Library
Status Facebook Tetangga

Status Facebook Tetangga

“Itu, Ma, Idos, yang anaknya gede tinggi, rumahnya dekat Masjid.” “Ooo, yang itu? Apakah ia sering begitu?” Jiwa detektive emak-emak mulai beraksi. “Iya, dia suka umpetin punya anak yang lain.” Setahuku, Idos memang anak yang memiliki kekurangan. Secara fisik, ia normal bahkan seperti anak yang lain, tetapi dalam hal bicara, ia sedikit gagu. “Owh, ya udah, nggak usah takut,” sahut Papa, biar nanti Papa tegur dia.
1011.3K viewsOngoingAdded to Library 304 Times as idiot
Read
+Library
Obsesi

Obsesi

Pikirannya semakin kacau akibat trauma. Pada awalnya dia masih bisa berpikir positif bahwa ini salahnya sendiri untuk tidak mendengarkan Kaizen, salahnya sendiri untuk memakan sesuatu di tempat terkutuk berisi iblis seperti nightmare whisper, salahnya sendiri karena percaya bahwa Mata adalah 'tuan' baik yang tidak akan membiarkan ternaknya kelaparan.
104.8K viewsOngoingAdded to Library 176 Times as idiot
Read
+Library
IBUKU BUKAN BABUMU

IBUKU BUKAN BABUMU

IBUKU BUKAN BABUMU 9 "Mau kemana, Nduk?" Tanya ibu khawatir. Aku mengusap air mata dengan punggung tangan. "Dinara mau ngekost, Bu. Bukan karena Dinara mau ngelawan sama Ibu, atau karena ngiri Ibu lebih sayang sama cucu dan menantu Ibu. Bukan! Tapi, Nara rasa, Nara butuh tempat untuk menyendiri. Nara ... Nara tak tega melihat Ibu kecapekan. Melihat ibu repot dengan pekerjaan yang tak ada habisnya. Tapi, Nara tak berdaya. Nara tak seperti mbak Ulya yang punya uang banyak untuk membayar jasa orang lain. Atau memberi upah pada mertuanya sendiri. Maafkan Nara, Bu. Kalau ibu menerima upah untuk membayar uang kuliah Nara, Nara tak bisa terima," sakit sekali dada ini saat berkata seperti itu.
1029.2K viewsCompletedAdded to Library 1.1K Times as idiot
Read
+Library
PREV
1
...
5678910
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status