TAK INGIN BERCERAI
"Pak Dod.. saya harap Pak Dodi mau mengerti keadaan Winda. Dia tidak boleh stress dan banyak pikiran. Kandungannya sudah besar, Pak. Bayi dalam kandungannya itu sudah bernyawa. Jangan jadikan Winda sebagai pembunuh. Jika bapak tidak bisa menerima anak itu, kalian titipkan saja ke tempat yang layak dan tepat. Saya tutup dulu teleponnya. Terima kasih."
"Tunggu!" kata Pak Dodi, saat aku hendak mematikan telepon.
"Ada apa, Pak?" tanyaku.
"Saya minta maaf sama kamu, Mur. Sekaligus saya ingin mengucapkan terima kasih. Assalamu'alaikum."
Klik! Telepon dimatikan. Aku menjawab salamnya meskipun telepon sudah mati.
Entah apa maksud ucapan terakhir Pak Dodi barusan, tapi sukses membuat bibirku melengku