Adik Pacarku yang Manis
Dia sekuat tenaga menahan diri agar tidak mengeluarkan suara apa pun.
Rangsangan dan kenikmatan yang aneh itu justru semakin menghantam otak dan sarafku. Pada saat itu, aku bahkan ingin terus seperti ini, selamanya tidak terpisah.
“Niko?” Dari luar pintu terdengar suara pacarku yang sedikit bingung.
“Iya, masih ada pekerjaan yang belum selesai. Kamu tidur dulu saja.”
Mendengar jawabanku, nada suara pacarku agak kecewa. “Baiklah, aku sebenarnya baru beli lingerie hari ini, aku ingin memakainya di hadapanmu.”