Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Satria Idaman Wanita

Satria Idaman Wanita

Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Tiba-tiba, bahu Dinda mulai bergetar. Dan sedetik kemudian, tawa perempuan itu meledak sangat keras dan nyaring memenuhi ruangan. "BWAHAHAHA! Ya ampun, Satria!" Dinda tertawa terbahak-bahak sampai harus memegangi perutnya dan terguling di atas kasur. Air mata sampai keluar dari sudut matanya saking kerasnya dia tertawa. Kakinya menendang-nendang udara kegirangan.
1040.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 890 kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
Cinta Sagita

Cinta Sagita

Yoga masih bertanya. "Papa, gas kita habis. Papa cabai kita habis. Papa minta uang belanja tambahan." Seseorang yang ada di belakang Jidan melah menjawab sambil tertawa. Semua orang yang ada dalam ruangan itu semakin menertawakan kepolosan Yoga dan Jidan. "Jidan, seperti ya kita emang salah tempat deh. Enggak seharusnya kita berada di sini. Lihat aja mereka malah ngetawain kita."
1014.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 446 kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
JIN PENGHUNI RUMAH KOSONG LEBIH PERKASA DARI SUAMIKU

JIN PENGHUNI RUMAH KOSONG LEBIH PERKASA DARI SUAMIKU

Al-Jinn: 15) Dinda segera menyuapkan sendok ke mulut, hanya satu suapan dan tiba-tiba mangkuk yang dipegang wanita muda ini terlempar ke arah dinding dan pecah berkeping-keping. Isi di dalamnya berhamburan mengotori dinding dan lantai. “Audzubillahiminasyaitonirrojim!" Gito dan Dinda mengucapkannya bersama-sama.
1075.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.5K kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
Derrick: Pendekar Naga Langit

Derrick: Pendekar Naga Langit

haha Tawa penonton yang adem ayem itu pecah seketika mendengar ucapan tetua keempat, namun bagi orang terdekat Derrick atau orang yang menjagokan Derrick hanya bisa diam seribu bahasa. "Haha, teman kamu bisa mundur jika tidak sanggup melawan paman, mumpung pertarungannya belum dimulai." Ucap Hendra tertawa, begitu juga Dewi yang tertawa jaim, sementara Eira hanya bisa khawatir melihat Derrick. "Hendra sepertinya kamu sangat yakin dengan kakek bau tanah ini." Balas Derrick acuh. "Cih, sampah kamu tidak tahu..." Hendra masih belum puas mengejek Derrick.
1034.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 823 kali sebagai jam dinding pun tertawa
Tampilkan Ulasan (14)
Baca
+Pustaka
Pebri Yarman Toni
Novelnya bagus, tapi klw boleh saran narasinya jangan terlalu kaku, percakapannya tolong dibuat semenarik mungkin karena aku baca kebanyakan percakapan antara karakter terlalu kaku dan seakan dipaksakan
RajaFantasi
waduh, saya baca baca komentar pembaca, aku menarik kesimpulan kebanyakan pembaca gak sreg kalau ada teknologi dan cerita detail, tapi gimana ya sudah terlanjur. mungkin di chapter selanjutnya aku usahakan kurangin teknologinya dan juga aku usahain gak berbelit-belit buat narasinya. Semangat...
Baca Semua Ulasan
CEO DINGIN ITU JODOHKU

CEO DINGIN ITU JODOHKU

Wajah Jingga yang semula tegang pun kemudian langsung tertawa mendengar jokes yang dilakukan oleh Doni. “Gila ya, jokes lo aneh tau engga,” sambil tertawa kecil. “Aku seirus itu bukan jokes, so besok gimana?” “Oke!” kata Jingga sambil tersenyum.
104.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 180 kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
Sang Penguasa

Sang Penguasa

Anna terlebih dahulu menatap Jihad dengan tatapan yang tidak dapat ditebak. Tiba-tiba terdengar suara tawa yang memekakkan telinga. Dia tertawa hingga seolah menggetarkan seisi ruangan dan kemudian berkata. "Kamu membuatku tertawa setengah mati! Kamu akan menyesal telah mengatakan hal itu …"
8.8146.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 5.8K kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
Fake Love

Fake Love

Ucap Dinda sambil menampar pelan wajahnya. Adit yang ada di balik pohon itu merasa lucu dengan tingkah Dinda. Ia pun tertawa dan tak sengaja di dengar oleh Dinda. "Hah? suara orang ketawa? Apa lagi ini? Apa aku benar-benar sudah gila?" Tanya Dinda pada diri sendiri.
103.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 80 kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
Tukang Pijat Tampan

Tukang Pijat Tampan

Suara tawanya yang riang membuat ruangan terasa penuh kehangatan. "Lagi! Lagi!" seru Dinda sambil ikut tertawa melihat reaksi anaknya. Adit mengulangi permainan cilukba beberapa kali, dan setiap kali Yoga merespons dengan tawa yang semakin keras. Tanpa sadar, Adit juga mulai tersenyum lebar dan bahkan ikut tertawa. "Kamu natural banget jadi bapak," komentar Dinda dengan nada yang agak bermakna.
10595.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 11.9K kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
Setelah Kamu Pilih Dia

Setelah Kamu Pilih Dia

Tetesan-tetesan kecil mengenai kulit mungilnya, membuat bayi itu terbahak dengan tawa renyah. “Ya ampun, Han! Liat deh! Dia ketawa sampai matanya nyipit begitu,” kata Dinda sambil menutup mulutnya menahan tawa haru. Rayhan ikut tertawa. “Dia kayak nemu dunia baru. Nih, Nak… rasain lagi airnya!”
88.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 297 kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
Penguasa Negeri Jin

Penguasa Negeri Jin

Di dinding sana Si Jin Sinting mengekeh. “Kek, kau ini aneh. Semua orang merasa bingung dan sedih tak bisa menolong mengeluarkan kau dari pendaman batu. Tapi kau sendiri malah tertawa begitu!” “Na... na... na...! Ni... ni... ni! Aku bukan saja tertawa tapi masih bisa menyanyi. Terima kasih! Kenapa kalian susah-susah pakai bingung dan sedih segala? Sudah lekas pergi. Tinggalkan tempat ini cepat. Tak usah pedulikan diriku lagi. Siapa tahu Hai anak muda, Tuhanmu itu masih ingat diriku dan menolong! Hik... hik... hik...!”
1031.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.2K kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status