Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Penguasa Negeri Jin

Penguasa Negeri Jin

Di dinding sana Si Jin Sinting mengekeh. “Kek, kau ini aneh. Semua orang merasa bingung dan sedih tak bisa menolong mengeluarkan kau dari pendaman batu. Tapi kau sendiri malah tertawa begitu!” “Na... na... na...! Ni... ni... ni! Aku bukan saja tertawa tapi masih bisa menyanyi. Terima kasih! Kenapa kalian susah-susah pakai bingung dan sedih segala? Sudah lekas pergi. Tinggalkan tempat ini cepat. Tak usah pedulikan diriku lagi. Siapa tahu Hai anak muda, Tuhanmu itu masih ingat diriku dan menolong! Hik... hik... hik...!”
1031.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.2K kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
Jeritan yang Tak Terdengar

Jeritan yang Tak Terdengar

Sepertinya dia ragu, tetapi dia segera berbicara lagi dengan tenang. "Apa yang mungkin terjadi padanya? Aku lebih suka melihatnya mati di luar sana! Supaya aku nggak perlu jengkel melihatnya!" Bibir Tante Sandra bergetar sejenak, dia menghela napas, lalu berbalik pergi. Aku mencoba untuk pergi, juga mencoba kembali ke ruang bawah tanah, tetapi entah bagaimana tidak bisa. Sepertinya aku terjebak di samping Ayah.
8.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 196 kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
Bukan Pengasuh Biasa

Bukan Pengasuh Biasa

“Hahaha.” Alih-alih membela diri, Jingga malah tertawa tergelak-gelak mendengar apa yang dikatakan oleh Langit. Membuat sang suami mengernyitkan keningnya. Mungkin Langit berpikir kalau saat ini Jingga sudah gila. “Mengapa kamu tertawa?” tanya Langit heran.
1010.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 301 kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
Membungkam Mulut Tetangga Julid

Membungkam Mulut Tetangga Julid

Tatapannya menyorot ke luar jendela, di mana di sana sedang berbaris rapi pakaian yang sedang menari-nari sebab tertiup angin. "Di kamar mandi kan bisa!" sahut Dewi dengan tatapan mengintimidasi. "Saya juga pernah nempatin rumah di tengah begini, tapi nggak pernah saya netesin tetangga sama jemuran. Selalu saya keringkan dulu di mesin cuci, sudah setengah kering baru saya keluarin. Masa kamu nggak mau beli mesin cuci?!" Dina memejamkan mata demi mendengar curahan hati tetangganya.
3.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 124 kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
Istri Tangguh Tuan Angkuh

Istri Tangguh Tuan Angkuh

kata Moza lagi. Kini Moza semakin tertawa keras karena pembahasan mereka yang sangat menggelitik perut, "manggil kamu, Kak Dinda," tambah Moza masih dengan tawanya yang terus menggelegar. "Ahahahhaha," Dinda juga jadi ikut tertawa karena kelucuan Moza. Akhirnya keduanya pun benar-benar tertawa karena kelucuan mereka sendiri. "Uhuk-uhuk."
10115.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 4.4K kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
Menjadi Istri Kedua Billionaire

Menjadi Istri Kedua Billionaire

Dia berdecak pelan, namun selanjutnya tertawa geli. "Aaa, Damon jangan tertawa," rengek Kinja dengan mengerucutkan bibir, semakin dongkol karena Damon menertawakannya. "Tidak, Sayang." Damon langsung diam, namun dalam hati dia masih tertawa geli– merasa lucu karena Kinja dipanggil nenek oleh Disha.
9.9157.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 3.8K kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
ALASKA

ALASKA

Hingga bait yang membuat Azka ikut terharu adalah: Jam dinding pun tertawa, Karna ku hanya diam dan Membisu Ingin kumaki Diriku sendiri, yang tak Berkutik di depanmu Ada yang lain Di senyummu Yang membuat lidahku Gugup tak bergerak Ada pelangi Di bola matamu Dan memaksa diri Tuk bilang Aku sayang padamu
104.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 120 kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
Akad Yang Dijanjikan

Akad Yang Dijanjikan

Zidan justru tertawa melihat tingkahku yang jelas tidak menyukai pertanyaan tadi, dia sangat menjengkelkan. “Aku hanya bercanda mbak, jangan galak-galak udah kaya singa betina aja nih,” ujarnya lagi. Mendengar hal itu sontak mataku melotot padanya, apa maksud dia aku seperti singa betina, benar-benar menyebalkan. Dia masih setia dengan tawanya, tidak peduli sedari tadi aku sudah menahan kesal terhadapnya. “Maaf bercanda lagi, mbak cantik kok cantik banget malah,” pujinya dengan cengiran yang menyebalkan.
2.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 92 kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
Lelaki Penjaga

Lelaki Penjaga

Edie terkekeh, namun kemudian buru-buru menutupinya dengan berdeham. “Kau tertawa?” “Melihatmu menggerutu lucu juga.” “Tidak ada yang pernah bilang aku lucu.” Edie mengangkat bahu. “Terkadang kau bisa sangat lucu dan menggemaskan.” “Oh,” bisik Jasmine. “Bisakah kita mundur sekarang?”
108.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 271 kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
Dendam Seorang Janda

Dendam Seorang Janda

kata Mutia. Perkataan Mutia menjadi tamparan buat Hadi, bukan hanya penolakan yang dia dapatkan melainkan sebuah hinaan. Hadi perlahan mundur, lalu berbalik arah, ternyata dibelakangnya adalah tembok dia menabrak tembok. Jidatnya membentur tembok yang sedari tadi diam ditempatnya. “Hahahah makanya kalau jalan lihat-lihat, nafsu amat mau nyium tembok.” ledek Mutia menertawakan tingkah Hadi.
1010.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 418 kali sebagai jam dinding pun tertawa
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status