Kania (Gairah Seorang Pembantu)
"Kenapa sih, Pak? Kenapa Bapak nggak suka? Padahal dulu Bapak kan yang mengemis pada saya? Bapak yang bilang kalau Bapak suka sama saya. Lalu, kenapa Bapak malah bilang kalau Bapak membenci saya? Apa salah saya, Pak?"
Sambil mendesis geram, Adi tampak ingin sekali mencabik-cabik sesuatu atau bahkan menghempaskan apa pun saling pusarnya. Alhasil, hanya rambutnya yang jadi sasaran. Adi meremas kuat rambut tebal itu, membayangkan kalau yang datang ini dia genggam kuat adalah bibir Kania yang benar-benar wadahnya racun.