Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Dalam Rengkuhan Sang Antagonis

Dalam Rengkuhan Sang Antagonis

potong Tatiana, memberikan kode lewat tatapan matanya. Tapi, Kaliel tidak peduli dengan penjelasan itu. Ia maju beberapa langkah, memperkecil jarak hingga bayangan tubuh tegapnya mengurung Emanuel. Matanya mengunci pria nyentrik itu tanpa berkedip sama sekali. "Aku tidak peduli dengan istilah senimu," desis Kaliel, melirikan matanya ke Tatiana. "Satu senti saja potongan dadanya melenceng dari batas yang kuizinkan, aku pastikan studió ini rata dengan tanah besok pagi. Paham?"
810 viewsCompletedAdded to Library 21 Times as kalimat should
Read
+Library
Namanya, Kalendra

Namanya, Kalendra

Entah Kale akan berpikir apa tentang aku, saat aku yang tadi menangis seperti anak kecil sepanjang jalan, tiba-tiba malah tersenyum lebar setelah mendengar ucapannya. Aku merasa bahwa semua kalimat yang dikatakan oleh Kale dapat diterima oleh egoku dengan baik. Dia benar, hanya aku yang tahu apa yang terbaik untukku, sesuai dengan kemampuan ku. **
104.3K viewsCompletedAdded to Library 98 Times as kalimat should
Read
+Library
Kali Kedua

Kali Kedua

"Kalau nggak, kamu telepon adikmu aja Rin. Telepon Shinta suruh temani Ibu di sini. Jadi kamu bisa langsung pergi buat jemput El." "Tadi Rina udah telepon Shinta, Bu. Tapi katanya, Shinta belum bisa keluar sekarang. Soalnya pasiennya masih lumayan banyak." "Walah terus piye nduk?" (Terus gimana nak?) (Nduk = di Jawa, ini merupakan sebutan/panggilan sayang untuk seorang anak perempuan) "Mboten nopo-nopo Bu. Ibu nggak usah khawatir, insyaAllah El aman di sekolah. Jadi Rina temani Ibu di sini sampai Ibu masuk, atau sampai Shinta datang."
1019.2K viewsCompletedAdded to Library 499 Times as kalimat should
Read
+Library
Selamanya Kamu

Selamanya Kamu

[SK] Halo. Kalau ada pembaca yang orang Bali, dan merasa saya salah kata, tolong dibetulkan ya. Terima kasih. ✌️
8.5K viewsCompletedAdded to Library 245 Times as kalimat should
Read
+Library
Binar Kalbu

Binar Kalbu

Lauk apa pun terasa begitu nikmat, menggugah selera untuk menambah. Nasi yang tinggal beberapa sendok pun tidak bisa dia paksa lagi untuk masuk ke mulutnya. Sisa nasi itu dibuang begitu saja dan langsung membiarkan piring itu. Jam di dinding terus bergerak, berkejaran. Chat dari Abbian begitu malas dibalas, kebiasaan yang sudah mendarah daging. Kebiasaan yang membuat Abbian harus memiliki stok kesabaran melimpah. Dering ponsel mengagetkan, nama Abbian terpampang di layar. Lagi-lagi Rine membiarkan ponselnya mati sendiri. Dengan malas yang dilawan, dia chat Abbian, mengabarkan bahwa malas untuk chat atau telepon dengannya. Beruntung Abbian bukan cowok rewel yang meminta dikabari 24 jam sepert
2.3K viewsOngoingAdded to Library 68 Times as kalimat should
Read
+Library
Jejak di Balik Pesantren

Jejak di Balik Pesantren

Ujian Terakhir: Satu Kalimat yang Harus Ditulis Untuk keluar dari Sela, mereka tidak bisa berjalan mundur. Mereka harus menulis satu kalimat tapi kalimat itu harus: Tidak menghapus keheningan, Tidak menghina sunyi, Dan tidak merusak ruang di antaranya. Kai mencoba: “Kami akan terus melawan.” → Kalimat itu menghilang, terlalu keras. Salma mencoba: “Kami akan diam.” → Kalimat itu tenggelam, terlalu patuh. Faris menggigil. Ia menulis:
2.3K viewsCompletedAdded to Library 85 Times as kalimat should
Read
+Library
PREV
1234569
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status