Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku
kata Arvendra pelan, suaranya turun lebih rendah lagi, “saya nggak yakin saya bisa tetap tenang.”
Kalimat itu punya dua makna. Dan keduanya sama-sama berbahaya.
“Mas, jangan pergi. Kita bisa omongin,” pinta Anindya, suaranya nyaris berbisik.
“Saya pulang dulu.” Tatapan Arvendra hanya sepersekian detik mengarah ke mata Anindya, tapi intens. “Nanti kalau saya dan kamu udah lebih tenang, baru kita lanjut.”