KUBUAT KAU MENGEMIS CINTAKU
Deretan rumah megah dua dan tiga lantai dengan berbagai model berderet dan jalanan di depan sudah bercabang.
“Ke mana, Bang?” Kenzo mengeraskan suaranya karena tertutup helm fullface.
“Bentar, belum dapat arahan!” Iqbal mengecheck gawainya. Tak berapa lama menunggu, sebuah informasi berupa voice note masuk.
“Ambil kanan, terus lurus hingga ketemu taman kecil, lalu belok kiri. Rumahnya paling ujung dengan cat warna grey.”