Seamin Tak Seiman
Kakinya menginjak pedal gas dan rem secara pergantian, membuat mobil Avanza hitam tersebut melaju dengan kecepatan rata-rata membelah jalanan yang disinari oleh sinar matahari yang cukup terik.
“Jadi, bisa kamu ceritakan surat itu dari siapa, Bel?” tanya Ahmed. Suaranya memecahkan keheningan di mobil tersebut membuat Isabel menoleh ke arahnya.
Gadis itu terdengar menghembuskan napas kasar sejenak. “Surat itu adalah surat dari Sean, mantanku.”
Tubuh Ahmed terlihat tersentak kecil, kendati demikian ia tetap menjaga air mukanya agar tetap normal seperti biasa. “Kalau boleh tahu, dia bilang apa sama kamu, Bel.”