Mantanku Kembali
Sampai pada suatu sore yang cerah, saat kami duduk di beranda rumahnya, Livia berkata dengan suara pelan, “Aku sempat berpikir... apa gunanya memulai dari awal kalau lukanya masih terasa?”
Aku menoleh. “Kalau kita saling menunggu sampai benar-benar sembuh, mungkin nggak akan pernah ada waktunya, Liv.”
Dia menatapku, lama. “Kamu yakin kita masih bisa?”
Aku mengangguk. “Aku nggak janji semua akan sempurna. Tapi aku bisa janjikan satu hal—aku nggak akan pergi lagi. Bahkan kalau kamu menyuruhku, aku akan tetap tinggal. Karena sekarang aku tahu, bertahan itu bukan soal siapa yang paling kuat. Tapi siapa yang mau belajar mengerti.”
Hot Chapters