Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Kubalas Hinaanmu, Mas!

Kubalas Hinaanmu, Mas!

Dari sana, mereka tetap bisa mendengar dengan jelas apa saja percakapan mereka. "Duduk dulu, Rin." Yuda menunjuk sofa. Sejak tadi, mereka memang berdebat sambil berdiri. Lelaki itu berjalan ke dapur untuk mengambil dua botol minuman dingin. Dia menggeleng sambil mengembuskan napas kencang saat menangkap bayangan ibunya dan Diandra berlarian mengetahui kedatangan dirinya.
998.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.8K kali sebagai kuda duduk
Baca
+Pustaka
Ternoda sebelum Malam Pertama

Ternoda sebelum Malam Pertama

Sembari menoleh pada pria yang duduk di sebelahnya. "Kalau kamu lelah harusnya istirahat saja, bersiap ke masjid. Insyaallah ini juga sudah cukup. Cuma abi dan yang lain di sini mau nunggu kopi agak dingin. Gak enak sama umi udah dibuatin khususon, hehe." Ubed terkekeh.
1023.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 695 kali sebagai kuda duduk
Baca
+Pustaka
Terikat Tatapan Pak Dosen

Terikat Tatapan Pak Dosen

“Duduk sebentar.” Maorielle menurut, duduk dengan posisi yang rapi. Jarak di antara mereka tidak terlalu jauh, tapi cukup untuk membuat suasana terasa berbeda dibandingkan di luar. Beberapa detik hening. Lalu tanpa sadar, Maorielle membuka suara lebih dulu. “Bapak suka juga lagu Saujana?” tanya Maorielle. Khai mengangguk pelan. Khai bersandar sedikit di kursinya. “Kamu pernah menyebutkannya.”
688 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 20 kali sebagai kuda duduk
Baca
+Pustaka
AKU TUNGGU DUDAMU

AKU TUNGGU DUDAMU

Saka memberi isyarat agar mereka melanjutkan istirahat dan tak perlu menyambut kedatangannya dengan formal. Saka duduk di kursi lipat yang ada di pinggir tendanya, dia pun mempersilakan pak Jana untuk duduk di kursi lipat yang ada di sebelahnya. Obrolan mereka masih berlanjut ternyata, sembari menanti kumandang azan magrib.
1013.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 328 kali sebagai kuda duduk
Baca
+Pustaka
Duda Tetangga

Duda Tetangga

Sudah ada lima menit, Caca duduk menyender di pintu kamar Ica. Anak itu menuggu sang Mama keluar dari kamarnya. Sesekali dari mulut kecilnya terdengar gumaman, "Mama Ica keluar, dong." "Caca mau main sama Mama Ica."
107.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 213 kali sebagai kuda duduk
Baca
+Pustaka
Aku dan [D]ia

Aku dan [D]ia

Ujar Kak Yudi yang sedang duduk tepat di samping tempat ku berdiri. Dia pun berdiri mempersilahkan ku untuk duduk ditempatnya. Dengan ragu aku duduk disana. “Terus kakak duduknya dimana?” “Disini” ujarnya sambil duduk lesehan di samping tempat duduk ku. “Duh jadi gak enak dong kak.” “Sudah, santai saja.” Dengan perasaan yang tidak karuan aku tetap duduk disana. Lalu aku lihat orang yang duduk diseberang ku. Ya ampun itu Kak Waldy.
3.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 109 kali sebagai kuda duduk
Baca
+Pustaka
Segitiga Penguasa - Sudut Pertama

Segitiga Penguasa - Sudut Pertama

Seorang lelaki bertubuh gempal mendadak duduk di samping Kuja. Lamunan Kuja sekejap lenyap. Untuk kesekian kalinya, Kepala Suku kembali mengganggu ketenangannya. “Apa yang sebenarnya kau inginkan?” tanya Kuja, ketus. “Duduk. Bersantai. Menikmati langit sore.” “Kenapa harus di sini? Kenapa harus duduk di sebelahku?”
1010.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 363 kali sebagai kuda duduk
Baca
+Pustaka
Terjerat Sugar Baby

Terjerat Sugar Baby

kisah Dudi. “Aku sering mabuk malam-malam di dekat kampus, seperti mereka,” ungkap Dudi. Tangan Dudi menuding ke arah gerombolan pemuda yang tengah berkumpul di mulut salah satu jalan kecil di depan kampus. Ada yang duduk di tanah dan ada yang berdiri. Mereka tertawa, bernyanyi, dan mengobrol keras-keras. Beberapa botol minuman kosong tergeletak di sekitar kaki mereka.
5.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 107 kali sebagai kuda duduk
Baca
+Pustaka
Antara Peran dan Perasaan

Antara Peran dan Perasaan

Tidak sekaligus. Tapi teratur. Seperti aliran air bawah tanah. Seorang duda, 40-an, selalu datang setiap Rabu. Ia hanya duduk. Menyalakan dupa. Menulis angka-angka. Seorang mahasiswa, seniman gagal, menggambar kursi berulang-ulang. Ia bilang, “Aku cuma ingin tahu: kenapa aku takut duduk terlalu lama.”
101.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 44 kali sebagai kuda duduk
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status