Tingkat Dua
"Setiap hari isi kolom komentar Abang cuma orang-orang yang ngatain Abang, Dek. Abang yang nggak punya bakat, Abang yang nggak pantes buat tampil di acara-acara besar, Abang yang cuma modal tampang aja, bahkan sampai kata-kata kasar yang Abang nggak ngerti lagi kenapa mereka bisa nge-judge Abang kaya gitu padahal nggak kenal Abang secara personal."
Aku menoleh ke arah Bang Saka yang malam ini kelihatan berbeda dari biasanya. "Kenapa Abang nggak nyerah aja? keluarga kita punya banyak uang kalo itu yang mau Abang cari."
Bang Saka tertawa. "Ini bukan soal materi ataupun popularitas, Dek. Pada dasarnya ini emang apa yang Abang suka dan pengen Abang lakuin. Jadi seberapa besar halangan yang ada d
Hot Chapters