Kau Duakan Aku, Kubuat Sengsara Hidupmu
Aku mendongak, menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit desa, jauh lebih banyak dan terang daripada di kota.
Dan entah mengapa, setelah menahan diri begitu lama, setelah semua yang terjadi, setelah semua air mata yang kutahan... aku tidak bisa lagi menahannya.
Aku menangis. Bukan tangisan histeris, melainkan menangis pelan. Air mata kesedihan, kelegaan, penyesalan, dan harapan bercampur jadi satu. Itu adalah tangisan pelepasan, tangisan yang menandakan bahwa aku telah tiba. Tiba di rumah, tiba di titik awal yang baru, dan tiba di sebuah babak baru dalam hidupku.
Hot Chapters