Sisa Takdir
Namun, ia akhirnya membuka suara dengan nada datar, “Delapan belas.”
Lyra tersenyum kecil, mencoba memancing percakapan lebih jauh. Sebenarnya, Lyra tidak hanya terpesona oleh wajah tampan Elian atau sikap dinginnya. Ada sesuatu dalam aura pemuda itu sesuatu yang membuatnya merasa tertantang dan penasaran. Dia yakin, jika bisa mendekati Elian, ia akan mendapatkan lebih dari sekadar perhatian. Ia akan mendapat akses ke dunia yang lebih luas, lebih berpengaruh. “Oh, jadi kau lebih muda dariku. Aku sembilan belas tahun. Kau tahu, aku jarang bertemu dengan seseorang seusia kita yang... menarik sepertimu.”
Hot Chapters