Pelayan Pemuas Nafsu Sang Sultan
Pria itu menyandarkan punggungnya ke singgasana, mengetukkan jemari panjangnya di atas hulu pedang pusaka dengan ritme yang konstan—sebuah detak jam yang menghitung sisa waktu bagi siapa pun yang berani menentangnya di ruangan ini.
"Sebelum leher pelayan itu diserahkan pada algojo," suara Rayyan yang berat dan serak memecah kesunyian,
"aku ingin kalian semua menyaksikan sesuatu yang jauh lebih menarik." Rayyan memberikan isyarat kecil dengan lirikan tajam ke arah dinding barat.
Detik berikutnya, sebuah layar proyeksi raksasa turun perlahan dari balik langit-langit marmer hitam, memotong megahnya cahaya matahari siang yang menembus melalui celah ventilasi tinggi.