Gairah Sahabat Suamiku
Meja tamu dari marmer hitam mengkilat, sofa panjang berbahan kulit asli, lemari pendingin yang berdiri gagah di sudut ruangan, dan pencahayaan lembut dari lampu gantung mewah membuat ruangan itu terasa terlalu nyaman, atau justru terlalu intim.
Ini bukan pertama kalinya Lili masuk ke ruang kerja itu. Tapi kali ini terasa berbeda. Lebih menekan. Lebih mencekam.
Pandangan matanya segera menangkap sosok Lio yang tengah duduk santai di kursi kebesarannya, tampak seperti raja di istana kecilnya. Lelaki itu menatapnya lurus, dengan senyum tipis yang hanya membuat jantung Lili berdebar lebih kencang, bukan karena bahagia, melainkan cemas, takut, dan… muak pada dirinya sendiri.