Malam Terlarang Bersama Dokter Pembimbingku
Kata-kata sahabatnya bagai belati yang menusuk langsung ke ulu hati.
"Jangan bilang begitu, Wul! Itu tidak adil bagiku! Bukan… bukan seperti itu sepenuhnya! Ada banyak hal kompleks, Wul, ini bukan hanya soal 'pesona harta' dan fisik itu!" seru Lidia, menangkis tuduhan itu dengan suaranya yang kini meninggi, dipenuhi frustrasi dan putus asa yang meluap. Air matanya menetes semakin deras, membasahi pipi yang terasa panas. Dia menggeleng keras, seolah ingin mengusir semua tuduhan itu. "Aku cuma manusia biasa, Wul! Aku tak bisa menghindari pesonanya, hatiku ini rapuh!"
Hot Chapters