Cahaya Biru
kataku dengan nada datar, sambil menatap langsung ke matanya.
Biru, dengan mata yang sembab, hanya menunduk, meresapi rasa sakitnya, tanpa sepatah kata. Hatiku tergerak melihat keadaannya yang memprihatinkan. Aku berdiri, melangkah gontai menuju lemari obat, lalu mengambil perlengkapan P3K. Saat kembali, kudengar deru nafas Biru yang kesakitan, "Gue bersihin luka lo," kataku lembut, berharap bisa sedikit meringankan beban deritanya. Biru mendongak, memandang tajam dengan sepasang mata sayu, sebat rokok tergenggam di bibirnya.
Sikat na Kabanata