The Hottest Desire (Bahasa Indonesia)
Dominik menanamkan sebuah kecupan pada puncak kepala Luna lalu berbisik, “Ini bukan salahmu. Ini hanyalah permainan takdir yang sudah Tuhan persiapkan. Hanya karena sedikit kebodohan yang kita lakukan, Tuhan sudah siap dengan permainan takdirnya.”
Tubuh Luna semakin bergetar karena tangisannya. Namun, Dominik memeluk Luna dengan penuh kelembuatan, seakan-akan berkata jika dirinya tidak akan membiarkan kesalahan yang sama terulang kembali. “Sekarang tidak perlu menyesali apa pun. Mari kita lanjutkan apa yang harus kita lanjutkan. Kehidupan ini tidak akan berlanjut hanya karena sebuah penyesalan. Namun, ada satu hal yang perlu kau ketahui, Luna. Aku, mencintaimu. Sangat.”